Sabtu, 04 Maret 2017

Rasa Syukur dalam Banyak Arti dan disebabkan oleh extrak makhluk terkecil Ciptaan Tuhan ( Berikut Kisah Inspirative dari pengalaman Anak-ku yang Sembuh Typus-nya berkat Extrak Cacing bernama VERMINT )

Runtutan Cerita Anak-ku yang Sembuh dari Typus berkat Extrak Cacing bernama VERMINT

Anak q bernama Felicia usia 4 tahun.
- Hari Minggu 26 Februari 2017 - Malam Suhu Tubuh anak q Panas (Demam) , senin pagi mulai ada tambahan pusing.
- Hari Senin ke RS. Nyai Ageng Pinatih Gresik dan diberi Obat Penurun Panas, Vitamin, Antibiotik , anti mual dengan Tagihan Rp. 250rb. Pulang dari RS diminum obatnya dan suhu tubuh anak q sudah mulai normal.

Obat Pertama dari dokter plus antibiotik serbuk dan serbuk anti mual

- Hari Selasa Normal normal saja.
- Hari Rabu 1 Maret 2017 - malam jam 7 anak q mulai nangis ... suhu tubuh naik, kepala pusing dan teriak2 sakit kepala.... jam 8 muntah2 ( Sampai detik ini aq blom sadar klo anak q kena types ). Jam 9 malam karena istri q mulai takut dan aq juga takut barangkali kena DB ( karena gejalanya mirip ) maka kita putuskan dibawa ke RS .

Rute RS : 
1. RS. Denisa Bunder Gresik ( Dokter tidak siaga, kami putuskan cari RS lain) 
2. RS. Semen Gresik ( Dokter banyak dan antrian pun juga banyak, ini UGD jadi seperti pasar dan beberapa kali saya komplain ke petugas minta agar anak saya segera ditangani karena sudah nangis disamping badanya demam panas juga sudah teriak teriak mengeluh kepalanya sakit , ini yg buat saya dan istri akhirnya memutuskan untuk cari RS lain karena sdh hampir 1 jam dibiarin luntang luntung disana dan saya sudah tidak tega lihat kondisi anak sy )

Hasil Tes Darah di Lab. yang menunjukkan positive Types

3. RS. Nyai Ageng Pinatih Gresik ( disini kami langsung di tangani dokter jaga dan segera di tes lab.(Rp. 80rb) yang hasilnya bikin aku antara senang dan sedih ; senang karena tidak positif DB dan sedih karena anak q positif typus. Menurut dokter tidak perlu opame dan cuma dikasih obat penurun panas yg ada pereda nyeri-nya dan serbuk anti muntah karena antibiotik yg dipake mulai hari minggu belum habis, suruh diterusin aja). Setelah tebus resep Rp. 60rb. Cepat2 obat penurun panas yang baru di dapat segera sy minumkan ke anak q.

Obat kedua dari RS yg sama cuma ditambahi ini sama anti muntah

- Hari Kamis , setelah pulang dari dokter malam itu dan jam sudah pukul 2 malam kita semua tertidur karena capek, pagi2 anak q sudah nangis lagi sambil pegang dan pukul pukul kepala, suhu tubuhnya masih panas.... aq bingungung lagi heeemmmm.... 
Dalam bingung q aq teringat 'cacing rebus' cerita tetangga dulu yang bisa sembuhkan types. segera aq cari info sana sini di googling ... dan aq segera berangkat ke apotik kimia farma untuk cari info paten-nya. Di apotik aq ceritakan semua pada mbak petugasnya mengenai anak q... dan akhirnya aq memutuskan untuk membeli Vermint untuk anak q ( di kimia farma Bunder Gresik harga Vermint Rp. 55rb ) . Jam 11 siang sampai rumah dan saya kasih ke istri agar di minumkan ke anak. Istri q segera buka kapsulnya satu dan ditaruh sendok ditambahin air gula biar gak pahit. AJAIIIIBBBB dan ALHAMDULILLAH ..... jam 1 (2 jam setelah minum vermint) anak q sudah minta minum susu dan tidak muntah..( padahal pagi-nya semua yang diminum muntah lagi... dari susu...teh hangat... sampai oralit hangat...). Dan setelah minum vermint demam langsung turun drastis.. 

Vermint yang Cespleng sembuhkan Typus anak q

Hari Kamis sore jam 2 sampai jumat pagi jam 3 tidur nyenyak... jam 3 pagi minta diantar BAB... jam 5 pagi habis minum susu sudah teriak2 bangunin aq.. papa jangan tidur aja ayooo bangun temenin Caca main. Jadilah pagi2 aq bangun dan nyalain TV dan mainan dg anak q. 

- Hari Jumat obat dokter sudah stop.... hanya anti biotik sj yg diminum , itupun  hari jumat jatah minum nya sdh habis . Continue Vermint .. dan keadaan anak q bertambah ceria.... Alhamdulilah ya Allah..

Terima Kasih Vermint...

Berikut info yang tertulis dalam lembaran di dalam kotak Vermint ( Saya tidak bermaksud promosi karena sy bukan sales vermint , ini murni karena kesaksian pemakai produk ): 

Vermint Obat Typus dan Demam Tinggi merupakan herbal yang sangat baik untuk mengobati typus, demam tinggi, dll. Bekerja secara biomedicine, sehingga vermint tidak menyebabkan efek samping bagi penggunanya. Vermint adalah produk herbal yang komposisinya 100% terbuat dari ekstrak   Lumbricus Rubellus (cacing tanah), yang secara empiris telah terbukti mengobati berbagai penyakit kronis lainnya. Ekstrak cacing lumbricus memiliki kandungan protein yang menyehatkan dan dapat meningkatkan vitalitas. Dapat dan aman dikonsumsi untuk segala usia baik anak-anak maupun dewasa. Keunggulan lain dari produk herbal ini antara lain, aman untuk dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama, dapat digunakan secara bersamaan dengan obat dokter dan bahkan dapat meningkatkan kerja obat tersebut. Serta Vermint Obat Typus dan Demam Tinggi aman untuk dikonsumsi oleh wanita hamil dan menyusui.

Di Cina sebagai sebagai pusat pengobatan klasik telah diadakan beberapa penelitian dan uji coba klinis mengenai efektifitas  sebruk cacing tanah (serbuk Lumbricus Rubellus) terhadap 400an pasien gangguan pembuluh darah otak. Hasilnya efektifitas pengobatan mencapai 93% dengan 73% sembuh total. Sehingga serbuk Lumbricus Rubellus sering menjadi resep untuk mencegah dan mengobati penyumbatan pembuluh darah otak dan jantung yang beresiko penyakit jantung koroner, hipertensi dan stroke.

Di Indonesia, para ahli kesehatan dan herbalis berpendapat, antara lain: Dr. Zally Nurachman, seorang ahli enzim & protein ITB, menyatakan bahwa stroke dan jantung sering kali menyebabkan kematian, kedua penyakit tersebut disebabkan oleh thrombosis (gumpalan darah, lemak,dll) menyumbat pembuluh darah ke otak dan jantung. Enzim Lumbrokinase berfungsi untuk menghancurkan sumbatan pembuluh darah dan mengobati infeksi pembuluh darah, serta melancarkan lagi sirkulasi darah ke seluruh jaringan tubuh. Sehingga Vermint sangat efektif mengobati stroke dan jantung. Prof. Hembing Wijaya Kusuma (ahli pengobatan dan tanaman obat) menyatakan bahwa serbuk Lumbricus Rubellus yang terdapat pada Vermint sangat baik untuk kesehatan dan pengobatan. Didalamnya mengandung 20 jenis asam amino dan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan maupun daging. Dan juga baik untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Karena jika anak sering menangis di malam hari atau susah tidur dapat diberikan serbuk Lumbricus Rubellus (Vermint Obat Typus dan Demam Tinggi). Prof. Dr. Dondin Sajuthi (Jurusan Kimia Farma IPB) menyatakan ekstrak lumbricus rubellus bekerja pada dua sisi dalam proses pengobatan typus, membunuh bakteri penyebabnya dan sekaligus menurunkan demamnya. Dr. Bambang Setio Budiarto, Sp.KK (Spesialis kulit dan kelamin), Vermint sangat membantu dalam mengatasi kerontokan rambut alamiah dan mempercepat penyembuhan kerontokan rambut akibat penyakit fase anagen dengan suplai protein asam amino.

Vermint Obat Typus dan demam tinggi dapat mengobati antara lain:
– Typus dan Demam tinggi (Demam Berdarah)
– Stroke, Jantung koroner
– Kolesterol tinggi
– Diabetes
– Migrain
– Asma
– Liver / Hepatitis
– Reumatik
– Asam Urat,
– Sakit Pinggang
– Kadar lemak darah tinggi
– Anemia
– Gangguan pencernaan
– Diare
– Maag
– Tukak Lambung
– Meningkatkan kecerdasan dan konsentrasi
– Meningkatkan vitalitas tubuh (sex)

Komposisi:

Ekstrak Lumbricus Rubellus      …      250mg

Aturan Pemakaian:

– Dewasa       : 3 x 2 kapsul sehari
– Anak-anak    : 3 x 1 kapsul sehari
– Diminum sebelum atau sesudah makan

Isi: 30 kapsul

============================================================

Tambahan info Pendukung 1. : 

"CACING TANAH YANG AJAIB"

Siapa sih yang gak kenal si cacing tanah, pasti udah banyak yang kenal, muncul dipermukaan tanah ketika musim hujan telah tiba, yah maklumlah rumah si cacing pada kebanjiran jadi mereka pada ngungsi kepermukaan tanah semuanya. Fakta ilmiah tentang keajaiban cacing ini berangkat dari proses pencarian obat anti penggumpalan darah pada penderita jantung dan stroke, dua penyakit yang sekarang ini udah umum dijumpai dimana saja baik di kota maupun desa bahkan dipinggiran hutan terpencilpun juga ada penderitanya, penelitian itu dilakukan oleh seorang ilmuwan dari Kanada mulai tahun 1960 an akhir, namun baru tuntas setelah tahun 1980 an dengan membuat produk sintesis yang menyerupai struktur kimiawi pada darah putih cacing tanah itu dengan nama paten Lumbricus, sekarang kayaknya udah jadi obat paten untuk berbagai penyakit penyumbatan aliran darah diseluruh penjuru dunia. yah memang mahal siiiiih, tapi gak masalah, itu memang resiko yang ditempuh untuk mendapatkan obat sintetis yang berkualitas paten amat lama dan tidak sedikit biaya yang sudah dikeluarkannya.

Yang berkhasiyat dari cacing tanah itu ada 3 hal yang meliputi darah putihnya, populasi bakteri antibiotik yang terkenal sebagai pemecah/ pemakan mineral yang banyak hidup dalam saluran usus si cacing itu, serta seluruh bahan organik yang terkandung dalam tubuh cacing yang kaya akan unsur kalium organik yang bisa langsung digunakan oleh tubuh tanpa proses penyetaraan yang panjang seperti jika kita minum produk bahan isotonic atau makan buah dan sayur, yah mirip minum madu yang asli loooooh, bukan yang palsu hehehehehe. Bahkan dari 5000 jenis cacing tanah diseluruh dunia cuman 6 jenis yang bisa dipakai untuk obat, syukurnya adalah 5 dari 6 jenis itu ada di hampir semua tempat pulau jawa bisa dijumpai, apa bukan merupakan nikmat yang wajib untuk kita syukuri bukan???. Tapi ingat ada 1 jenis yang amat beracun yang gak boleh dimakan atau dijadikan obat, bisa mati keracunan loooh dengan karakter bentuk hitam agak kebiruan dan kulitnya pejal/ keras mirip seperti anak ular yang masih kecil, amat gesit, agresive/ hiperaktif dan tubuhnya sulit putus jika terkena sabetan clurit atau pisau. 

TERAPI CACING TANAH

Untuk mengenal bagaimana cacing itu bisa dijadikan obat, sagatlah perlu untuk mengenal dasar fisio farmakologi dari bahan2 yang terkandung didalam tubuh cacing tanah itu sendiri, tanpa pengetahuan dasar yang memadai pasti akan terjebak dengan pengetahuan mitologi yang sesat dan menyesatkan, langsung aja yaaaaaa ke pokok perhatian yang utama, bahwasanya si cacing itu mempunyai satu komponen utama yang bersifat obat (medicine), hal ini dikandung oleh darah putih cacing, dimana pada darah putih cacing ini punya kemampuan membunuh patogen penyakit ataupun menghancurkan gumpalan di dalam aliran sistem darah adalah dengan cara menempel pada objek yang bikin masalah, kemudian melubangi dinding sel atau selaput sel sehingga seluruh cairan dalam sel keluar (bocor) dan mati, dapat dijumpai seperti pada bakteri patogen yang berkembang dalam darah (in vitro) yang dimakan oleh virus, nah darah putih cacing ini mirip kerjanya dengan si virus yang berkehendak membunuh si bakteri. Pada kasus seseorang sudah memiliki resistensi antibiotik paten (sintesis) pada derajad akhir, dimana sudah tidak ada lagi obat antibiotik yang manjur untuk mengatasi infeksi penyakit yang tengah dihadapi oleh penderita tersebut, maka penggunaan terapi darah putih cacing amat dianjurkan, bahkan bagi mereka yang amat mudah menderita alergi antibiotik dari obat paten sediaan farmasi sangat sangat dianjurkan.

Sedangkan untuk penggumpalan darah cara kerjanya adalah dengan menempel objek yang bikin onar, kemudian memakan secara cepat dengan jalan menyelubungi si objek asing itu dan mulai dipecah dalam selubung plasmanya, yah mirip seperti sistem RE dalam darah yang bersifat pemakan segala, hmmm kira kira ngarti gak yaaaaa maksudnya, hehehe. Karena kecepatan penguraian plasma dari darah putih cacing lebih cepat dari pada kerja sistem RE (retikulum endoplasma) alami tubuh manusia, maka segala macam gumpalan yang memblokir aliran darah mulai dari sistem utama sampai kapiler yang sangat lembut terbukti amat efektif dan cepat membuka aliran darah yang tersumbat, bahkan sebelum jaringan tersebut mengalami kerusakan permanen. Nah pada situasi inilah yang kemudian darah putih cacing itu amat handal dalam menerjang gumpalan darah tanpa harus menghambat sistem pembeku darah sebagai mana yang berlaku pada obat2 paten untuk kasus penyumbatan pembuluh darah non steroid. Jadi amat dianjurkan pada penderita stroke atau pecahnya pembuluh darah otak baik dari yang ringan sampai yang berat. Sedangkan untuk kasus kerusakan pembuluh darah pada jantung koroner dan yang setype dengan itu, darah putih cacing tidak efektif bekerja. Dianjurkan juga untuk penderita asam urat dalam menekan radang/ nyeri dan menurunkan kosentrasi garam mineral yang terlarut dalam darah dengan terapi darah putih cacing.

Kelebihan yang dapat diunggulkan oleh cacing itu adalah jika kita mengkonsumsi segera seperti sushi ikan laut, asal jangan dikunyah yaaaaaa, cukup ditelan saja hehehehe, maka bakteri yang ada di dalam usus cacing juga akan berkembang didalam usus si penderita yang melakukan terapi menggunakan cacing itu, serta 3 keuntungan sekaligus didapatkan jika mengkonsumsi cacing tanah dalam sediaan segar, yaitu mendapatkan keampuhan darah putih cacing tanah sekaligus penyebaran/ inokulasi dan pertumbuhan bakteri antibitik yang berasal dari dalam saluran cerna cacing dalam saluran cerna kita, sekaligus mineral penting yang dikandung oleh tubuh cacing dapat langsung diserap oleh tubuh si sakit. Menarik bukaaaaan???.

Untuk yang terbiasa mengkonsumsi tepung cacing dalam bentuk serbuk hanya dapat 2 khasiyat saja yaitu pertumbuhan bakteri antibiotik dalam usus kita dan mineral organik penting dapat langsung diserap oleh tubuh, cuman jangan terlampau banyak mengkonsumsinya jika hendak dijadikan suplemen, karena bakteri yang menguntungkan dalam usus besar kita yang berfungsi membusukkan makanan akan banyak yang mati, wal hasil kita akan sulit sekali berak alias bedegelen (pen-jawa) atau sembelit berat pada saat hendak pupup.

Bagi mereka yang suka mengkonsumsi cacing olahan seperti kripik, oseng dan gulai, dll dengan tujuan non medis atau bukan untuk pengobatan, sangat tidak kami anjurkan, mengingat hukum obat itu darurat dalam agama kami (Islam), jadi jika untuk malnutrisi atau kelainan syaraf jantung akibat kekurangan kalium berat saja yang diperbolehkan mengolah daging cacing menjadi masakan yang lezaaaaaaat, dan khasiyatnya cuman dapat 1 yaitu asupan bahan mineral organik dan protein tinggi yang mudah dan cepat terserap oleh tubuh kita. Ingat yaaaa jangan disalahgunakan walaupun dagingnya enak hehehehehehe kecuali kepepet/ terdesak. Ingat dan ingat.

================================================================

Tambahan info Pendukung 2. :

9 Manfaat Cacing Tanah Bagi Kesehatan

Cacing tanah adalah hewan yang pasti kita kenal. Bagi Anda yang suka berkebun tentu tidak jarang bertemu dengan hewan yang satu ini. Saat belajar biologi dulu kita mengenal bahwa Cacing tanah termasuk ke dalam kingdom Animalia.

Di zaman mesir kerajaan cleoptara dahulu menganggap cacing tanah sebagai makhluk suci. Berbeda di Yunani, cacing tanah disebut oleh Socrates sebagai ususnya tanah. Sedangkan di Indonesia sendiri khususnya di tanah merah Madura, masyarakatnya sering memburu hewan ini untuk di olah menjadi ramuan obat.

Sebagain dari kita mungkin menganggap cacing adalah hewan yang menjijikkan, dan tidak banyak memberi manfaat kepada kita kecuali bagi para petani yang merasa terbantu dalam proses menjaga kualitas tanah perkebunannya. Faktanya, para peniliti justru sangat tertarik untuk melakukan riset terkait khasiat dari cacing tanah ini. Penelitian tersebut sudah di lakukan selama kurun waktu sekitar 50 tahun, dan mereka menemukan bahwa terdapat cairan selom cacing tanah yang mengandung lebih dari 40 jenis protein.

Protein Cacing Tanah

cacing tanahProtein yang di miliki cacing tanah berbeda dengan manusia dalam urusan fungsi perlindungan tubuh dari mikrobakteria. System kekebalan tubuh kita sering disebut antibiotic namun pada cacing tanah ini disebut antimikroba. Apa perbedaanya? Mekanisme antimikroba cacing tanah mampu untuk membunuh mikroba tersebut tanpa merusak jaringan tubuh.

Sistem kekebalan tubuh cacing tanah membuat sitoplasma sel bakteri terkapar dengan kondisi luar dan mengganggu system internal sel bakteri tersebut dan menyebabkan kematian bakteri dari dalam. Sedangkan system kekebalan tubuh kita perlu merusak jaringan tubuh untuk membunuh mikroorganisme bakteri tertentu. Oleh sebab itu jika di bandingkan, sejatinya system kekebalan tubuh cacing tanah lebih “canggih” daripada antibiotic yang ditemukan sampai sejauh ini.

Jenis cacing tanah

Species cacing tanah sangat beragam, berikut ini jenis cacing tanah yang umumnya banyak dimanfaatkan oleh manusia.

jenis Eisenia Feitida.
jenis Lumbricus Rubellus.
jenis Lumbricus Hortensis.
jenis Lumbricus Terristris.
jenis Esenia Andrei.
jenis Perionyx.
jenis Eudrilus Engeniae.
Tentu masih banyak lagi selain jenis di atas. Namun dari berbagai jenis tersebut, yang sering digunakan untuk dijadikan sebagai obat tradisional adalah jenis rubellus atau dikenal sebagai cacing eropa, serta jenis lainnya adalah pheretima aspergillum.

Kandungan Cacing tanah

Sempat di ulas sebelumnya bahwa cacing tanah memiliki kandungan protein yang sangat tinggi. Selain itu cacing tanah juga mengandung asam amino dengan kadar yang cukup tinggi. Cacing tanah jenis rubellus yang biasa dijadikan obat memiliki kadar protein sekitar 76%. Kadar tersebut lebih tinggi daripada kadar protein pada daging mamalia seperi sapi yang sekitar 65%, dan dibanding protein ikan sebanyak 50%.

Cacing tanah termasuk hewan yang tidak memiliki tulang belakang atau biasa disebut invertebrate. Hidupnya dalam tanah yang gembur dan bersuhu lembab. Cacing tanah selain mengandung banyak protein hingga 76% juga mengandung nutrisi lainnya yang dibutuhkan tubuh seperti asam amino sebanyak 17%, karbohidrat 45%, serta kandungan lemak dan abu yang hanya 1,5%.

Manfaat Cacing Tanah Bagi Kesehatan

Manfaat cacing tanah bagi kesehatan memang masih belum banyak diketahui dan beberapa orang masih sangat berpikir mengkonsumsinya. Jika kita perhatikan informasi sebelumnya, diketahui bahwa cacing tanah memiliki sistem kekebalan tubuh yang “canggih” dalam membunuh bakteri tanpa merusak jaringan  tubuhnya. Selain itu Cacing tanah mengandung banyak sekali protein yang memiliki peran penting dalam melakukan aktivitas biologis dalam tubuh. Berikut manfaat cacing tanah yang baik untuk tubuh kita.

Penyembuhan tifus. Tifus di akibatkan dari pertumbuhan bakteri salmonella dalam organ pencernaan kita. Dengan mengkonsumsi cacing tanah ternyata mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Cara mengkonsumsinya bisa di rebus dahulu lalu di buat bubuk cacing tanah yang nantinya di minum bersama madu. Cara pengobatan tersebut di afirmasi oleh ahli farmakologi.

Obat Diare. Diare adalah penyakit yang cukup lazim di alami setiap orang. Cacing tanah sebagai salah satu obat tradisional bisa menyembuhkan penyakit ini. Sifat cacing tanah menjadi antibakteri bagi bakteri E.Coli dan shigella yang  menjadi penyebab diare.

Melancarkan Sirkulasi darah. Cacing tanah memiliki enzim yang mampu untuk menghancurkan lemak jahat di system sirkulasi darah kita. Sehingga system peredaran darah kita akan menjadi lebih lancar. Itulah mengapa cacing tanah juga digunakan untuk mengobati penyakit tekanan darah tinggi dan srtoke.

Melancarkan Pencernaan. Cacing tanah seperti diketahui mengandung banyak protein yang membantu proses aktivitas biologis tubuh. Kandungan enzim, seluosa, dan katalisator yang di butuhkan tubuh untuk proses metabolism banyak terdapat di dalam tubuh cacing tanah. Oleh sebab itu secara tidak langsung, cacing tanah mampu membantu melancarkan system pencernaan.

Antipiretik. Ekstrak cacing tanah mengandung nitrogen dengan sifat basa. Kandungan tersebut dapat membantu mengurangi demam tinggi pada penyakit seperti tifus. Bahkan, riset IPB menunjukkan bahwa dengan menggunakan cacing tanah lebih efektif untuk mengurangi demam daripada menggunakan bahan kimia seperti parasetamol yang ada efek sampingnya.

Menenangkan syaraf. Pheretima yang terdapat dalam cacing tanah mempengaruhi system saraf manusia. Efeknya, kita akan merasa tenang, rasa sakit  berkurang, dan kejang-kejang bisa dihentikan. Sehingga, konsumsi cacing tanah cukup tepat saat dalam kondisi sakit gigi, pusing, atau kondisi rematik yang mana kita merasa sakit luar biasa di bagian tubuh tertentu.
Meningkatkan energy. Cacing tanah mengandung taurin yang mampu meningkatkan proses metabolism lemak yang kemudian di ubah menjadi ATP atau energy. Efek tersebut berlaku bagi siapa saja termasuk bagi wanita yang sedang menjalani program diet.

Sama halnya seperti manfaat daging ular dan manfaat kodok tentu cacing tanah cukup menjijikan, namun ternyata beberapa orang memiliki masalah kesehatan yang membuatnya harus mengkonsumsi cacing tanah.

Cacing Tanah Untuk Kesehatan Kulit

Manfaat cacing tanah juga sangat ampuh untuk kesehatan kulit manusia. Kandungan alfa-tokoferol pada cacing tanah membantu mempertahankan elastisitas kulit dan menjaganya agar tetap muda. Perlu Anda ketahui, bahwa industry kosmetik diantaranya menjadikan cacing tanah sebagai bahan baku pembuatan produk kosmetiknya.

Menyembuhkan luka. Cacing tanah mengandung asam arakidonat yang berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan sel-sel baru. Kondisi tersebut baik untuk proses penyembuhan luka yang membutuhkan pergantian sel mati menjadi sel-sel baru.
Meningkatkan nafsu makan. Di sadari atau tidak bahwa cacing tanah mengandung banyak protein dimana adanya kandungan enzim yang membantu proses metabolism dalam tubuh. Itu akan membuat system pencernaan kita berjalan dengan baik dan dikondisikan tetap merasa nyaman. Kondisi organ pencernaan yang terjaga fungsinya akan menstimulus dorongan pola makan yang proporsional yang dibutuhkan tubuh.
Saran konsumsi

Cacing tanah memang hewan yang menjijikkan jika dilihat dari habitatnya. Sehingga perlu cara pengolahan yang baik sebelum kita mengkonsumsinya. Pertama kita perlu membersihkan kotoran di dalam perutnya dengan membelah perutnya. Selanjutnya di cuci hingga bersih dan direbus hingga mendidih. Air hasil rebusannya bisa di minum sebagai obat, dan tubuh cacing tanah biasanya di buat bubuk dan kemudian di minum dengan madu sekitar 3 gelas per harinya.

Namun kini sudah banyak apotek yang menjual obat dari cacing tanah, sehingga Anda tidak perlu repot untuk mengolahnya. Namun perlu diingat jika Anda tetap mengolahnya secara mandiri, tetap perhatikan bahwa cacing tanah yang Anda makan sudah higienis, karena jika ada bakteri yang masih menempel di cacing tanah justru akan membahayakan tubuh kita yang nantinya menyebabkan infeksi organ dalam.

Terakhir, jangan biarkan orang yang menderita penyakit yang nantinya meminum obat ini melihat bagaimana proses pengolahnnya. Usahakan agar penderita tidak melihatnya agar tidak merasa jijik. Sekian informasi sekilas tentang manfaat cacing tanah. Semoga memberi wawasan dan menginspirasi.

=====================================================================

Tambahan info Pendukung 3. :

"Anti Bakteri yang Membunuh Bakteri Typus" - Bukti Riset Ilmiah

Performa Mahameru Info---------------------

by candkaUniversitas Jember
Muhammad A. Najib,1 Hendri J. Permana,1 Fatkhur Rizqi1
1 Fakultas Kedokteran Gigi
Correspondence :
Universitas Jember
Jalan Kalimantan no. 37, Jember-Jawa Timur

ABSTRAK

Latar Belakang:Enterococcus faecalis adalah bakteri anaerob fakultatif yang dapat menyebabkan infeksi periapikal sekunder dan sangat resisten terhadap berbagai bahan antimikroba yang biasa digunakan pada perawatan saluran akar. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) mengandung peptida antibakteri Lumbricin-1 dan diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, Gram negatif dan jamur, namun sangat jarang menyebabkan timbulnya resistensi.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas antibakteri tepung cacning tanah (Lumbricus rubellus) terhadap Enterococcus faecalis secara in vitro.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang bertujuan untuk melihat aktivitas antibakteri Lumbricin-1 dari tepung cacing tanah terhadap pertumbuhan E. faecalis secara in vitro. Enterococcus faecalis dikultur pada media CHROMagar VRE dan diinkubasi secara anaerob selama 24-48 jam pada suhu 37⁰C. Bakteri diidentifikasi dengan melihat warna koloni bakteri yang tumbuh pada media CHROMagar VRE dan pewarnaan Gram, sementara uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram.
Hasil Penelitian: Hasil analisis statistik dengan one way ANOVA dan uji Duncan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p < 0,05) antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara masing-masing kelompok perlakuan.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tepung cacing tanah memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap pertumbuhan E. faecalis.

Katakunci:Enterococcus faecalis, Lumbricus rubellus, peptida antibakteri,  Lumbricin-1

ABSTRACT

Background: Enterococcus faecalis is a facultative anerobic bacterium which can cause secondary periapical infection and is very resistant to numerous antimicrobial substances normally used during the root canal treatment. Earthworm (Lumbricus rubellus) possess antimicrobial peptide, known as Lumbricin-1 which is known to hinder the growth of Gram positive and Gram negative bacteria as well as fungi, but rarely caused resistance.
Objectives:  This study was conducted to observe the antibacterial activity of earthworm powder (Lumbricus rubellus) towards Enterococcus faecalis in vitro.
Methods: This research was an experimental laboratory study conducted to observe the antibacterial activity of Lumbricin-1 contained in earthworm powder towards the growth of E. faecalis in vitro. Enterococcus faecalis was cultured on CHROMagar VRE media and incubated anaerobically for 24-48 hours in the temperature of 37⁰C. The bacterium was identified by observing the colour of the colony of the bacterium growing on the CHROMagar VRE medium and Gram staining, while antibacterial activity test was performed using disk diffusion method.
Results: Statistical analysis using one way ANOVA and Duncan test showed that there was a significant difference (p < 0,05) between test and control group.
Conclusion: The result of the study showed that earthworm powder possessed strong antibacterial activity towards the growth of Enterococcus  faecalis.

Keywords: Enterococcus faecalis, Lumbricus rubellus, antimicrobial peptide, Lumbricin-1

1. PENDAHULUAN

Enterococcus faecalis merupakan bakteri Gram positif fakultatif anaerob dengan prevalensi resistensi antibiotik yang semakin meningkat.1 Bakteri ini ditemukan pada 4-40% infeksi endodontik primer namun sering ditemukan dalam jumlah yang banyak pada gigi paska perawatan endodontik dengan lesi periapikal yang persisten.17 Enterococcus faecalis memiliki kemampuan untuk melekat di dinding saluran akar dan membentuk biofilm sehingga lebih resisten terhadap fagositosis, antibodi dan antibakteri yang diberikan.2 Selain sebagai penyebab kegagalan perawatan saluran akar, E. faecalis juga dikenal sebagai patogen bagi manusia dan menjadi penyebab dari 80% infeksi yang biasa disebabkan oleh Enterococci.4

Prevalensi resistensi E. faecalis yang semakin tinggi telah menjadi suatu permasalahan serius di bidang kedokteran, khususnya kedokteran gigi.4 Tingginya jumlah E. faecalis yang ditemukan pada saluran akar paska perawatan endodontik telah lama dikaitkan dengan kegagalan perawatan itu sendiri.3 Salah satu upaya yang kerap dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan penelitian mengenai bahan-bahan alami yang bersifat antibakteri. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) merupakan salah satu bahan alam yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Hal ini telah dibuktikan oleh enelitian yang dilakukan Cho et al. pada tahun 1998 telah berhasil mengisolasi peptida yang bersifat antibakteri dari cacing tanah.5,6

Aktivitas antibakteri cacing tanah sebagian besar disebabkan oleh adanya peptida antibakteri yang berfungsi untuk melindungi cacing tanah dari mikroorganisme patogen yang hidup di lingkungan yang sama dengannya. Peptida antibakteri merupakan substrat yang sangat penting karena antibodi yang ada pada cacing tanah tidak cukup untuk mempertahankan diri dari serangan mikroorganisme patogen.7,8 Lumbricin-1 merupakan peptida antibakteri yang telah berhasil diidentifikasi dari cacing tanah Lumbricus rubellus dan diduga bekerja dengan cara melubangi dinding sel bakteri dan dapat mengakibatkan kematian bakteri. Peptida ini terbukti mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram negatif, Gram positif dan jamur.5

Penelitian yang dilakukan oleh Sandra (2012) membuktikan bahwa tepung cacing tanah (L. rubellus) dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40% dan 80% dalam pelarut akuades dapat menghambat pertumbuhan Shigella dysentriae. Biblio (2011) juga telah membuktikan bahwa  tepung cacing tanah (L. rubellus) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhii.9

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap E. faecalis. Pemilihan tepung cacing tanah dari spesies L. rubellus sebagai bahan alam yang akan diuji berdasarkan pada teori adanya senyawa peptida antibakteri yaitu Lumbricin-1 yang bersifat antibakteri. Senyawa ini diharapkan dapat menghambat pertumbuhan E. faecalis secara in vitro, sehingga dapat dikembangkan pada penelitian-penelitian selanjutnya.

2.     METODE

Bahan dan alat yang digunakan adalah tepung cacing tanah dari spesies Lumbricus rubellus yang didapatkan dari LIPI Yogyakarta, kultur bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212 yang berasal dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, media CHROMagar VRE, media MHA, akuades, NaCl 0,9%, perangkat warna Gram, asam asetat 50%, Chlorhexidine (CHX) 2%, air steril, alkohol 70%, kertas cakram, anaerogen, timbangan analitik, gelas ukur, cawan petri, tabung reaksi, jarum ose, labu Erlenmeyer, pipet Eppendorf, lampu spiritus, autoklaf, sterilisator, inkubator, kaleng, kapas lidi steril, vortex, jangka sorong

Kultur dan identifikasi E. faecalis dilakukan pada media CHROMagar VRE.14 Kultur E. faecalis dilakukan dengan menggunakan teknik goresan (streaking). Goresan diambil dari biakan murni dengan jarum ose yang sebelumnya telah dipijarkan di atas lampu spiritus. Jarum ose yang telah mengandung biakan lalu digoreskan secara zig-zag di atas media CHROMagar VRE. Cawan petri yang telah digoreskan bakteri dimasukkan ke dalam kaleng yang sebelumnya telah diisi dengan anaerogen, lalu diinkubasi dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37⁰C.15,16 Koloni E. faecalis akan tampak berwarna biru toska di atas media CHROMagar VRE.10 Langkah identifikasi selanjutnya dilakukan dengan pewarnaan Gram.21,22,23

Pembuatan suspensi E. faecalis dilakukan dengan memindahkan 1-2 ose koloni E. faecalis dari cawan petri ke dalam tabung reaksi berisi larutan NaCl 0,9% dengan menggunakan jarum ose. Selanjutnya kekeruhan suspensi diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 625 nm dan nilai absorbansi 0,08-0,1 atau setara dengan McFarland 0,5 atau 1,5×108 colony forming unit (CFU)/ml.15,17

Pembuatan larutan tepung cacing tanah dilakukan dengan menambahkan 300 mg, 400 mg, 500 mg dan 600 mg dimasukkan dalam tabung reaksi steril. Sebanyak 2,5 ml asam asetat 50% ditambahkan pada tiap-tiap tabung lalu dihomogenkan dengan vortex selama 8 menit. Berikutnya ditambahkan lagi 2,5 ml asam asetat 50% pada setiap tabung dan divortex lagi selama 7 menit. Supernatan pada permukaan larutan diambil sebanyak 0,1 ml dengan mikropipet dan dipindahkan ke tabung reaksi steril lainnya. Supernatan dicampurkan dengan 4,5 ml air steril dengan tujuan normalisasi asam asetat 50% hingga mencapai konsentrasi 1%.18

Suspensi bakteri yang telah diukur kekeruhannya tadi diswab dengan menggunakan kapas lidi steril secara merata pada media MHA dan didiamkan selama 5 menit. Kertas cakram berdiameter 6 mm yang telah disediakan masing-masing direndam dalam 1 ml larutan tepung cacing tanah, CHX 2% dan asam asetat 1% selama ±30 menit lalu diletakkan di atas media MHA dengan menggunakan pinset steril. Kertas cakram yang direndam dalam CHX 2% digunakan sebagai kontrol positif, sementara kertas cakram yang direndam dalam asam asetat 1% digunakan sebagai kontrol negatif. Selanjutnya media dimasukkan ke dalam kaleng yang sebelumnya telah diisi dengan anaerogen, lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37⁰C. Setelah 24 jam, zona terang yang terbentuk akan diukur dengan menggunakan jangka sorong. Perlakuan akan dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali.6,16,17,18

Hasil pengukuran yang didapat dinyatakan dalam satuan milimeter (mm) dan diinterpretasikan berdasarkan kategori daya hambat antibakteri menurut Davis dan Stout.19,20 Data yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis menggunakan one way ANOVA yang kemudian akan dilanjutkan dengan uji Duncan.21

3.   HASIL

Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa tepung cacing tanah pada konsentrasi 300mg/5ml, 400mg/5ml, 500mg/5ml dan 600mg/5ml dalam pelarut asam asetat 50% dapat menghambat pertumbuhan E. faecalis. Berdasarkan klasifikasi Davis dan Stout, diameter zona hambat yang terbentuk dari larutan tepung cacing tanah konsentrasi 300mg/5ml, 400 mg/5ml, 500mg/5ml dan 600mg/5ml dengan pelarut asam asetat 50% termasuk dalam kategori kuat dengan rata-rata diameter zona hambat 11,25 mm, 13 mm, 12,25 mm dan 11,75 mm.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI TEPUNG CACING TANAH1

AKTIVITAS ANTIBAKTERI TEPUNG CACING TANAH2

Data pada Gambar 2 menunjukkan rata-rata diameter zona terang terbesar terdapat pada konsentrasi 400mg/5ml yaitu 13 mm, dan rata-rata diameter zona terang terkecil pada konsentrasi 300mg/5ml yaitu 11,25 mm, sedangkan pada kontrol negatif (asam asetat 1%) tidak terbentuk zona hambat. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS), hasil uji normalitas menunjukkan sebaran data pada keseluruhan konsentrasi larutan tepung cacing tanah normal. Selain itu pada hasil uji homogenitas diperoleh nilai Sig. 0,077 yang berarti nilai p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut homogen.

Hasil uji one way ANOVA menunjukkan bahwa nilai Fhitung sebesar 172,655 lebih besar daripada nilai Ftabel yang bernilai 3,06 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Dengan kata lain tepung cacing tanah memiliki aktivitas antibakteri yang nyata terhadap E. fecalis. Hasil uji Duncan penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI TEPUNG CACING TANAH3

Tabel 1. menunjukkan bahwa semua konsentrasi uji menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol negatif (yang ditunjukkan dengan superscript yang berbeda). Hal ini menunjukkan bahwa kontrol negatif mampu menekan heterogenitas galat dan terlihat jelas bahwa larutan tepung cacing tanah dalam berbagai konsentrasi memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. faecalis. Larutan tepung cacing tanah konsentrasi 300mg/5ml, 400mg/5ml, 500mg/5ml dan 600mg/5ml menunjukkan aktivitas antibakteri yang sama. Aktivitas antibakteri yang paling kuat ditunjukkan oleh kontrol positif, yaitu CHX 2%.

4.   PEMBAHASAN

Kemampuan tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) dalam menghambat pertumbuhan E. faecalis menunjukkan bahwa cacing tanah L. rubellus mengandung Lumbricin-1 yang bersifat antibakteri.5,6 Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa konsentrasi larutan tepung cacing tanah yang tinggi tidak selalu menghasilkan diameter zona hambat yang besar pula. Pada konsentrasi 300mg/5ml tepung cacing tanah yang digunakan lebih sedikit dibandingkan yang lain, begitu juga peptida yang terlarut sehingga aktivitas antibakterinya lebih sedikit dibandingkan yang lain. Aktivitas antibakteri meningkat pada konsentrasi 400mg/5ml, namun kembali menurun pada konsentrasi 500mg/5ml dan 600mg/5ml. Penurunan aktivitas ini disebabkan oleh kadar tepung cacing tanah yang terlalu tinggi dibandingkan dengan pelarutnya, sehingga larutan menjadi jenuh dan sulit untuk larut.6

Kelarutan peptida sangat bergantung pada faktor karakteristik pelarut dan zat terlarut merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Lumbricin-1 adalah peptida yang bermuatan +1 yang dibentuk dari 10 asam amino bermuatan positif dan 9 asam amino yang bermuatan negatif.7 Peptida yang memiliki muatan +1 atau lebih hanya akan larut dalam larutan yang bersifat asam. Oleh sebab itu pada penelitian digunakan pelarut yang bersifat asam, yaitu asam asetat.22

Hidrofobisitas Lumbricin-1 menentukan aktivitas antibakteri yang dimilikinya, karena hidrofobisitasnya akan berhubungan secara langsung dengan cara pelarutannya. Lumbricin-1 merupakan peptida yang 22% molekulnya bersifat hidrofobik.5 Peptida yang hidrofobisitasnya <25% biasanya akan larut dalam air.22 Penelitian yang dilakukan oleh Ekasari dkk. (2012) mengenai daya antibakteri tepung cacing tanah terhadap Vibrio harveyi menggunakan air sebagai pelarut, namun penelitian ini tidak menemukan adanya zona hambat yang terbentuk.11 Hal ini dapat disebabkan oleh muatan positif yang dimiliki Lumbricin-1, sehingga asam asetat 50% tetap merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan air. Selain itu, agar peptida yang ada larut dengan sempurna, untuk cara pelarutannya digunakan metode drop wise, dimana pelarut yang berupa asam asetat ditambahkan ke tepung cacing tanah secara bertahap, dan masing-masing tahap diikuti dengan pelarutan menggunakan vortex.16 Selanjutnya air steril ditambahkan ke dalam larutan hingga konsentrasi asam asetat mencapai 1%.  Pengenceran ini dilakukan karena asam asetat konsentrasi 1% merupakan konsentrasi normalisasi dimana tidak lagi ditemukan efek lisis terhadap sel.17

Aktivitas peptida antibakteri sangat bergantung pada kemampuannya untuk memasuki membran sel. Peptida antibakteri dan membran sel bakteri harus memiliki interaksi elektrostatik yang hanya akan terjadi bila ada perbedaan muatan antara keduanya.8,12,13,24 Dinding sel bakteri Gram positif seperti E. faecalis mengandung 90% peptidoglikan serta lapisan tipis asam teikoat dan asam teikuronat yang bermuatan negatif, sedangkan peptida antibakteri, khususnya Lumbricin-1 memiliki muatan positif.5,8,25 Perbedaan muatan ini akan menyebabkan peptida tertarik ke sel hingga akhirnya memasuki membran sel bakteri.5,8,12,13

Penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa peptida antibakteri dapat membunuh mikroorganisme dengan membuat lubang-lubang kecil, meningkatkan permeabilitas dan merusak membran sel.Setelah berhasil memasuki sel, peptida antibakteri akan mengikatkan dirinya pada DNA sel dan menghambat sintesis makromolekul dan DNA sel sehingga menyebabkan kematian sel.5,24

Karakteristik lainnya yang dimiliki oleh Lumbricin-1 adalah kandungan asam amino prolinnya yang sangat tinggi, dimana  dari 62 asam amino yang dimiliki oleh Lumbricin-1, 15% diantaranya merupakan prolin, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 6.1.5 Prolin memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk rantai peptida dan menutupi bagian yang dikenali sebagai antigen oleh sel bakteri. Saat memasuki membran sel, peptida akan dikenali sebagai bagian dari sel bakteri, bukan suatu benda asing sehingga peptida antibakteri tidak akan diserang oleh sel. Mekanisme ini dapat mencegah aktivitas membranolitik sel bakteri sampai peptida antibakteri dapat menetukan target dan menyerang sel dengan leluasa. Hal inilah yang menyebabkan Lumbricin-1 dapat menyerang berbagai sel bakteri tanpa menyebabkan toksisitas sel pejamu.5,12
AKTIVITAS ANTIBAKTERI TEPUNG CACING TANAH4

Sampaisaat ini telah banyak ditemukan peptida antibakteri dari berbagai sumber yang kaya akan prolin, seperti apidaecin, drosocin, metchnikowin, bactenecin dan PR-39. Semua peptida antibakteri ini bermuatan positif dan memiliki kandungan prolin yang tinggi, namun memiliki aktivitas antibakteri yang berbeda. Apidaecin, bactenecin dan PR-39 hanya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif. Drosocin memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif, namun tidak aktif terhadap jamur. Metchnikowin aktif terhadap bakteri Gram positif dan jamur, namun tidak aktif terhadap bakteri Gram negatif. Lumbricin-1 diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif, Gram negatif dan jamur. Hal ini menunjukkan bahwa Lumbricin-1 memiliki mekanisme yang berbeda dengan peptida antibakteri kaya-prolin yang lain, namun sayangnya sampai saat ini mekanisme kerja Lumbricin-1 dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur belum diketahui dengan pasti.5,15

5.   KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat menghambat pertumbuhan Enterococcus faecalis. Hal ini disebabkan karena tepung cacing tanah mengandung peptida Lumbricin-1 yang bersifat antibakteri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) berasal dari peptida antibakteri yang dimilikinya, yaitu Lumbricin-1. Berdasarkan hasil tersebut, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengoptimalkan aktivitas antibakteri Lumbricin-1 terhadap Enterococcus faecalis dan berbagai mikroorganisme resisten lainnya. Hal ini penting untuk dilakukan agar potensi Lumbricin-1 sebagai bahan antibiotik baru yang non-resisten dan non-toksik serta mudah disintesis dapat dikembangkan dengan baik di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Hidron AI, Edwards JR, Patel J, Horan TC, Sievert DM, Pollock DA, et al. Antimicrobial-resistant pathogens associated with healthcare-associated infections: annual summary of data reported to the national healthcare safety network at the Centers for Diseases Control and Prevention. CDC 2008; 29: 996-1010.
Matthew S, Boopathy T. Enterococcus faecalis: an endodontic challenge. KSR 2011; 33-7.
Stuart CH, Schwartz SA, Beeson T J, Owatz CB. Enterococcus faecalis: Its role in root canal treatment failure and current concepts in retreatment. J Endod 2006; 32: 93-8.
Portenier I, Waltimo TMT, Haapasalo M. Enterococcus faecalis: the root canal survivor and “star” in post-treatment disease. Endodontic Topics 2003; 6: 135-59.
Cho JH, Park CB, Yoon YG, Kim SC. Lumbricin I, a novel proline-rich antimicrobial peptide from the earthworm: purification, cDNA cloning and molecular characterization. Biochimica et Biophysica Acta  1998; 1408: 67-76.
Julendra H, Sofyan A. Uji in vitro penghambatan aktivitas Escherichia coli dengan tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus). Media Peternakan 2007; 30: 41-7.
Karaca, A. Soil Biology: biology of earthworms. Berlin: Springer, 2011. p. 1.
Tasiemski A. Antimicrobial peptides in annelids. ISJ 2008; 5: 75-82.
Sandra M. Uji efektivitas tepung cacing tanah Lumbricus rubellus dalam menghambat pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae secara in vitro. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, 2012. p. 6-7.
Kayaoglu G, Orstavik D. Virulence factors of Enterococcus faecalis: relationship to endodontic disease. Crit Rev Oral Biol Med 2004; 15: 308-20.
Ekasari, Tjahjaningsih W, Cahyoko Y. Daya antibakteri tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi secara in vitro. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan 2012; 4: 1-6.
Yeaman MR, Yount NY. Mechanism of antimicrobial peptide action and resistance. Pharmacol Rev 2003; 55: 27-55.
Zasloff M. Antimicrobial peptides of multicellular organisms. Nature 2002; 415: 389-95.
Anonymous. CHROMagar VRE. Access on: http://chromagar.com/fichiers/1259769034IFU_CHROMagar_VRE.pdf
, Oktober 2012.
Brown AE. Benson’s Microbiological Applications: laboratory manual in general microbiology. 9th ed. New York: McGraw-Hill, 2005. p. 73, 96.
Hadioetomo RS. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek: teknik dan prosedur dasar laboratorium. Jakarta: Gramedia, 1985. hal. 32.
Vandepitte J, Verhaegen J, Engbaek K, Rohner P, Piot P, Heuck CC. Basic Laboratory Procedures in Clinical Bacteriology. 2nd ed. Geneva: World Health Organization, 2003. p. 84, 86-9.
Rinanda T, Hidayaturrahmi, Juwita. Karakterisasi SDS-Page lumbricin-1 serta uji aktivitas antibakteri tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap isolat klinis Pseudomonas aeruginosa resisten ciprofloxacin dan meropenem. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, 2012. hal. 25. Laporan Hasil Penelitian Dosen Muda.
Marsa, RD. Efek antibakteri ekstrak lerak dalam pelarut etanol terhadap Enterococcus faecalis (penelitian in vitro). Medan: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara, 2010. hal. 19. Skripsi.
Dharmawati IG. Efek ekstrak mengkudu dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans penyebab dental plak secara in vitro. Program Studi Ilmu Kedokteran Biomedik Universitas Udayana, 2011. hal. 4. Tesis.
Dahlan, MS. Statistika untuk Kedokteran dan Kesehatan. ed.4. Jakarta: Salemba Medika; 2009. hal. 83-95.
ProImmune. Peptide solubility. Access on:    http://www.thinkpeptides.com/peptidesolubility.html, Desember 2012.
AnaSpec Inc. Peptide Solubility Guidelines. Fremont: EGT Group, 2008. p. 1-2.
Park CB, Kim HS, Kim HC. Mechanism of action of the antimicrobial peptide buforin II: buforin II kills microorganisms by penetrating the cell membrane and inhibiting cellular functions. Biochemical and Biophysical Research Communications 1998; 1: 253-257.
Madigan MT, Martinko JM, Parker J. Brock Biology of Microorganism. 10th ed. Illinois: Southern Illinois University, 2003. p. 110.

==================================================================

Penutup Info------------
Hikmah Penciptaan Cacing 


( Teladan Contoh Rasa Syukur dan Pengobatan Serta Bukti Khasiat hasil Tes Ilmiah ) 

Cacing adalah binatang yang hidupnya menjalar dan merayap di permukaan bumi. Di sana sini banyak kita jumpai binatang Cacing yang lemah dan mejijikan ini...? Apakah Dia (Allah SWT) menjadiakannya tampa maksud dan tujuan...? 

Para serjana Ahli Sains mengakui setelah melakukan penyelidikan bertahuan-tahun, suatu hakekat yang aneh... bahwa Cacing tanah itu sejenis binatang yang amat berguna dan barmanfaat... bahawa Cacing itu lebih banyak manfaatnya kepada manusia dan kemanusian dari pada sapi ataupun unta, misalnya. 

Dapat kita ketahui bahawa Cacing ini petugas utama dalam menggali tanah. Bila dia menggali tanah, terjadilah lobang-lobang kecil yang menolong akar tumbuh-tumbuhan untuk menjalar di dalam tanah, dan pekerjaan Cacing mengorek tanah dapat pula menyimpan uadara serta air dalam lobang-lobang tersebut. 

Cacing juga tugasnya melumatkan tanah ketika tanah tersebut masuk ke dalam perutnya, setelah diolah dan dihancurkannya berubah menjadi tanah yang ringan dan gembor yang baik untuk ditanami. Begitu juga Cacing pun berkerja menarik daun-daun dan sampah-sampah dibenamnya ke dalam tanah, sehingga hancur menjadi pupuk yang sangat baik ditanami. 

Seorang Ahli Sains “Sir John Arthur Thompson” mengungkapkan: setiap setengah ha tanah pertanian yang baik di Inggris mengandung 50.000 cacing. Tanah yang telah melalui pencernaan Cacing, setaiap tahunnya berjumlah 10 ton dari setiap setengah (½) ha. Dengan demikian Cacing dapat menutup permukaan bumi setebal 3 inchi setiap 15 tahun. Sebenarnya Cacinglah pengolah tanah yang terbesar di dunia dan cacing adalah hewan yang paling berguna dipandang daripada jasa dan kerjanya. 

Percakapan tentang hal cacing tanah ini tidak akan ada habis-habisnya, apabila orang berkeinginan untuk diberi penjelasan apakah jasa-jasa untuk kemanusian, yaitu kegiatan-kegiatan yang langsung bersangkut pada kehidupan manusia. 

Alhi-hali sains telah mengakui bahawa Cacing tanah ialah peluku bumi sebelum banyak di kenal orang-orang. Bekas Cacing di atas tanah pertanian, bagaimanapun jenis tanahnya, melebihi bekas Cacing yang ditimbulkan oleh binatang lain . 

Tambahan lagi, Cacing bekerja membalikan kulit lapisan bumi sebelah tanah bawah ke atas tanah dan memecahkan tanah liat melekat. Dengan itu cacing dapat mengorek, menggali dan memperbaiki jalan pengairan serta menyiapkan luangan yang baik, memudahkan bagi tumbuhnya akar tumbuh-tumbuhan dan menyebabkannya akar itu menurut garis mendatar dan menegak, selanjutnya menyusul bagusnya pertumbuhan tanaman tersebut. 

Cacing juga bekerja mengumpulkan bahan makanan dalam tanah dan memproses zat-zat yang perlu dari jaringan daun-daun untuk tumbuh-tumbuhan serta sebagian hewan yang lain. Cacing juga mempunyai kelenjir kalsium (kapur) yang dikeluarkannya dari pencernaannya, yang diaduk bersamaan dengan makanannya. Zat yang mengandung kapur ini dikeluarkan oleh cacing bersama tanah yang telah dihancurkannya. Oleh karena itu jelaslah, bahwa apa yang keluar dari tubuh cacing sangat baik dan bayak mengandung unsur-unsur lebih bernilai lebih dibanding dengan tanah-tanah yang diolah berbagai cara, dicangkul, dibajak dan dipupuk. 

Kita telah bisa melihat Cacing dan pengelihatan yang menimbulkan pembelajaran (I'tibar) bagi orang-orang yang memperhatikannya, adalah ketika Cacing tersebut tekun bekerja untuk pekerjaannya. Tidaklah cukup bagi kita untuk memperhatikan dan merenungkan sebagian kecil saja akan hikmah yang sempurna ini, yang selalu berseru di sekitar kita, seperti hikmah yang terdapat pada Cacing Tanah tersebut. 

Wajiblah bgi kita untuk merenung, memperhatikan dan memikirkan tentang bermilyun-milyun makhluk hidup yang amat kecil dan amat halus, yang besar serta yang lebih besar lagi, yang memenuhi jasad kita, sungguh mankjubkan, betapapun bentuk makhluknya ini, betapapun sedikitnya atau kecil tubuhnya, semuanya itu mengandung I'tbar dan pelajaran, mempunyai luangan untuk dipelajar serta ditelaah. 

Waallahu A'lam Bishawab, 
Dinukil dari kitab al-Hikmah wal Fikrah (Imam Al-Ghazali)


Info Compiled by :
Teguh Mahameru, S.Pd.
eMail : magetan.gresik@gmail.com

***** Referensi dari Lampiran info pendukung itulah yang membuat aq memutuskan untuk memakai VERMINT untuk kesembuhan Typus Anak q.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Love is the Only Way

The law of attraction cannot change anything in your life that you hate, because hate prevents the change from coming. Since the law is giving us exactly what we are putting out, when you hate something the law must continue to give you more of what you hate. You will not be able to move away from it. Love is the only way. If you focus completely on the things you love, then you are on your way to a beautiful life.

Terjemahan bebasnya adalah:

Law of Attraction tidak dapat mengubah yang anda benci, karena benci menghalangi perubahan untuk datang menghampiri kita. Karena Law of Attraction benar-benar memberikan apa yang kita pikirkan, makin anda pikirkan kebencian, maka kebencian akan semakin bertambah. Anda tidak bisa keluar dari kebencian tersebut. Love/ cinta/ kasih sayang lah jalan keluarnya. Hanya FOKUS lah kepada apa yang anda KASIHI/ CINTAI/ SAYANGI, dan anda pun akan menjalani kehidupan yang bahagia…